Jumat, 19 Februari 2016

Refleksi Diri. Dulu, kini dan nanti

Terinspirasi dari tulisan Mas Janu Muhammad yang tidak sengaja saya temukan dikumpulan noted istimewa.  Semoga tulisan ini menjadi refleksi bagi saya untuk menjadikan tujuan dan cita masa depan sebagai acuan, sejarah masa lalu sebagai pelajaran, dan kendali atas diri saat ini untuk selalu bergerak menjadi insan yang lebih baik.

Tentang diri

Setya, nama yang diberikan oleh duet kakek saya, yaitu mbah nang (lanang: laki-laki, bapaknya bapak saya) dan mbah kung (kakung: laki-laki, bapaknya ibu saya). Entah kenapa bapak dan ibu tidak turut memberikan nama, mungkin manut saja. Oya, saya memanggil bapak dengan panggilan bapak dan ibu dengan panggilan ibu karena panggilan itu bagi saya adalah panggilan sederhana yang mampu mengungkapkan segala rasa.  Lahir di tahun 1995 membuat saya menikmati masa kecil dengan sederhana dan bahagia. Saya masih bermain bekel, gobaksodor, engklek, gejlek rame-rame bersama teman sekampung.  Saya kira anak kecil masa kini sudah jauh dari yang namanya main bersama.  Dilain sisi masa kecil saya cukup perjuangan, lahir hingga-3 tahun tinggal bersama bapak dan ibu, umur 3 hingga kelas 3 sd saya tinggal bersama mbah, karena bapak dan ibu harus merantau pasca PHK massal krisis moneter 1998 ke ujung pulau.  Saya sudah menginjak kelas 3 SD saat ibu pulang dari rantau, sedangkan bapak pulang saat saya kelas 5 dan beliau akhirnya membuka toko di kediri. Saya mempunyai 2 adik laki-laki, dwi – yang lahir saat saya kelulusan kelas 6 dan wawan – yang lahir saat saya kelulusan kelas 3 SMP. Jarak kelahiran saya dan adik saya cukup jauh, hingga orang-orang sering tidak mengira kalo bapak dan ibu sudah punya anak sulung, saya hehe.  Dididik oleh mbah tentu beda rasanya dengan dididik langsung oleh kedua orang tua, setya kecil sering iri dengan teman-teman lain yang kemana-mana bersama orang tua,walaupun setya yang sekarang pun masih sering iri juga,melihat teman-teman yang pada diantar orangtuanya. Berharap sedikit dimanja pasca bapak dan ibu pulang, eh ternyata beliau mendidiknya lebih keras dari mbah. Apapun yang terjadi wajib disyukuri,mungkin beliau ingin membentuk saya menjadi anak mandiri.  karena Itu juga yang menjadi pembeda perjuangan hidup saya dengan orang lain.

Dulu , sejarah yang pernah terlalui

Ada beberapa fase yang menjadi titik point hidup saya. Fase pertama saat setya kecil hingga Sekolah dasar. Masa TK yang selalu bikin onar dan guru-guru kelimpungan, namun membaik di masa SD dimana selalu menjadi pemilik tetap peringkat 2 mulai dari kelas 1- 6 kecuali pas kelas 3,mendapat peringkat 1 karena ibu pulang.  Fase kedua, saat mendapat adik baru –dwi- dan mulai menginjak SMP. Pendaftaran SMP segera dibuka, namun izin dari ibu untuk melanjutkan ke SMP kota masih belum turun, akhirnya mendaftar di SMP dekat rumah, setelah mengikuti beberapa test akhirnya masuk juga saya ke kelas H, kelas yang pulangnya paling sore dibanding kelas lain. Masa SMP kelas 1 hingga kelas 2 saya akui mulai sedikit nakal, akademik sedikit turun,tp alhamdulillah hanya sedikit turunnya dan saya mulai mengenal ekstrakulikuler. Pernah mengikuti perkemahan pramuka namun ternyata pingsan ditengah jalan yang akhirnya tidak diperbolehkan ikut lagi sama ibu, mengikuti kelas menari tapi Cuma ikut masa perkenalannya saja, juga mengikuti kelas qiraah tapi gak bisa ngaji dan akhirnya hanya bertahan ikut ekstra wajib –renang . ada satu lagi kelas yang saya suka, kelas TIK dimana kami harus bisa mengetik dengan 10 jari, kelas itu yang paling saya sukai walaupun sering kena semprot sih dan yang setidaknya masih bisa saya pertahankan kemampuannya hingga saat ini. itulah yang sering mengingatkan saya untuk tetap menulis entah apapun itu yang saya tulis. Fase ketiga, Masa pencarian jati diri. Perjuangan masuk SMA sulitnya berganda.  anak SMP kabupaten masuk SMA kota, minder awalnya sih iya, soalnya saingannya tentunya lebih ketat, apalagi ternyata ada campur tangan lembaga bimbingan yang diduga membocorkan jawaban ujian masuk, tes masuk SMA pun diulang 2 kali. Kalo emang jodoh ndak kemana, saya alhamdulillah bisa masuk smast, salah satu SMA golden triangle di kota kediri. Setya remaja mulai mengikuti yang namanya halaqoh- alias ngaji berkelompok semenjak masuk SMA. Sebenarnya sudah pernah ngaji berkelompok saat di TPA Bina Insani dan ngaji maghrib di rumah bu ve zaman pertobatan kelas 3 SMP, ternyata modelnya ndak jauh beda tapi yang ini jauh mengasyikkan. Inilah titik balik saya mengenal islam. Setya remaja benar-benar jatuh cinta pada islam . Mulai memakai jilbab dan berusaha keras belajar lebih dalam tentang islam, toh juga mendapat kesempatan lingkungan SMA yang sangat mendukung.  Akhirnya pun gabung ke skist . Nakal tetap ada, namanya saja remaja haha apalagi setya masuk kelas IPS dimana sudah mendapat stigma “kelas tidak biasa”- walau tidak separah dulunya, hal itu murni kesalahan oknum, setya pribadi. Fase keempat, memasuki dunia kampus. Perjuangan benar-benar teruji disini. Harus “cul-culan” mengerjakan semua sendiri, dari daftar ulang, mencari tempat tinggal, hingga mengurusi segala krucil-krucil keperluan.  Bagaikan katak keluar dari tempurung, saya benar-benar menjelajah dunia luar seorang diri. Dulu saat SMP- SMA sekedar maen saja kadang ndak sempat, karena selalu full day school,berangkat pagi pulang maghrib. Liburan prefer digunakan untuk dirumah.  Bangku kuliah memberikan Lebih banyak kesempatan alokasi waktu untuk mengeksplor ‘dunia baru’.  Jika kita tak mampu bertahan dengan tujuan awal, memegang prinsip, sangat mudah untuk terhempas dan terbuai. Sedangkan disisi lain, kita dihadapkan dengan kesempatan melejitkan potensi diri setinggi-tingginya.  Mulai dari inilah seringkali terjadi kesalahan perkiraan gender, dimana setya sering dikira anak laki-laki hanya karena nama ‘setya’

Kini , perjuangan saat ini

Saya menempuh pendidikan di sebuah kampus terbaik di timur jawa dwipa. Mengambil jurusan ekonomi islam di fakultas ekonomi dan bisnis.  turut bergabung dengan beberapa organisasi yang menempa softskill  dan mengasah empati, juga mengikuti training seperti MHMMD yang membuka luas pemahaman saya akan hidup sebenarnya.  Semua berjalan cukup baik hingga suatu ketika saya menemukan ketidakberesan pada hidup saya, ketidak beresan yang menggeroti saya perlahan, ketidak beresan yang saya tak tau itu apa.  Perlu mengidentifikasinya 1 semester hingga akhirnya saya menyadari saya hanya ‘butiran debu’ yang siap terhempas kapan pun angin lewat walaupun akademik masih bisa dikatakan aman dan semuanya berjalan seperti biasanya.  after the third semester, Going to the cave and take a deep thinking is the only choice.  Kampus,dengan akses tak terbatas dan fasilitas lengkap, Pelatihan-pelatihan dan seminar yang membuka wawasan  seharusnya “bekerja”. Tapi itu tak terjadi pada saya. Saya terhenti dalam“ diri yang urung selesai”, mencari “missed thing in process” , hidup tapi sebenarnya mati, just like a zombie. Finally I realized, bahwa selama ini saya sangat kurang memahami jalan yang saya tempuh. Saya seperti hanya berjalan dan menangkap apa yang kasat mata saya lihat, tanpa berfikir makna sebenarnya apa dibalik itu. Bukan waktu yang singkat dan bukan pula waktu yang lama untuk berjalan tertatih,tercabik dan penuh kebingungan menuju proses ini, redefining life - “what’s my center and what am I belong”. 2 semester waktu yang saya perlukan  untuk menyadarkan diri ini.  Akumulasinya, perlu menghabiskan 3 semester hanya untuk mencari titik dari sebuah awal sebuah pijakan.
Now, I’m ready to come back and start a new journey. Saya harus mengejar kemajuan dan membayar ketertinggalan. Tidak ada kata terlambat bukan? Semoga di semester 6 ini saya mampu memaksimalkan kesempatan dan mengoptimalkan kemampuan to be the best I am and create the better future.

Nanti , mimpi dan cita-  ci(n)ta  esok hari

Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk mengenal dunia lebih luas melalui bangku perguruan tinggi. Kesempatan datang melalui beasiswa dari pemerintah, yang mengalirkan dalam tiap tetes darah saya jerih payah keringat seluruh rakyat indonesia pembayar pajak. Oleh karena itu saya bertekad untuk mampu ‘membayar’darah ini  suatu saat nanti  walau mungkin jauh dari kata sebanding. Sungguh ada cita-cita dan keinginan besar disana.  Indonesia yang terhormat dan bermartabat. Tentu bukan hanya saya yang memimpikan ini, banyak pemuda pemudi pula yang yakin dan optimis akan kejayaan Indonesia, mereka bergerak pada ranah-ranahnya,tetap berjuang- yang mungkin dalam keterasingan, senyap tanpa suara – yang mungkin masih mengumpulkan kekuatan besar. Perubahan itu dimulai dari langkah terkecil, step by step,dari lingkup terkecil- diri sendiri hingga yang lebih besar- kampung halaman dan komunitas misalnya. Perlahan namun pasti – but also rapid in the other side. In sya allah 10-30 tahun lagi Indonesia akan  menjadi terhormat dan bermartabat. Maka izinkan saya untuk terus belajar dan berkembang, merantau hingga ke seluruh penjuru negeri. Mengumpulkan segenap ilmu-ilmu yang terserak. Mengambil petuah dan nasihat dari orang-orang  hebat. Semoga saya mampu belajar dan mengaplikasikannya. Terimakasih kepada keluarga yang selalu mendukungku, bapak dan ibu yang dekapan hangatmu selalu membuatku rindu, sahabat-sahabat koplak yang selalu menarik dan mendorongku untuk maju dan segenap teman-teman yang mendoakan dan memotivasi dalam berbagai cara lintas ruang dan waktu. Tiada kata lebih indah yg mampu mengutarakannya, Jazakumullah khairan katsiran wa jazakumullah ahsanal jaza



19 Februari 2016

Menuju perbaikan diri, sedang detik umur yang semakin berkurang…

6 komentar:

  1. Tetap istiqomah untuk menulis, karena menulis itu bekerja untuk keabadian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin semoga, mohon doanya terus kakak :)

      Hapus
  2. Semangaat.
    Salam kenal. Yesi ODOP

    BalasHapus
  3. salam kenal kak yesi , semangat menulis!

    BalasHapus
  4. Semoga cita-cita luhurnya untuk memajukan Indonesia segera terkabul mbak.

    Setuju sekali dengan mbak, Perubahan besar dimulai dengan perubahan kecil namun pasti untuk diri sendiri.

    Salam kenal, sy veniy dari grup ODOP :)

    BalasHapus
  5. Semoga cita-cita luhurnya untuk memajukan Indonesia segera terkabul mbak.

    Setuju sekali dengan mbak, Perubahan besar dimulai dengan perubahan kecil namun pasti untuk diri sendiri.

    Salam kenal, sy veniy dari grup ODOP :)

    BalasHapus